Web Design, Web Programming / Posted 2 years ago / 38 Komentar
programmer-vs-designer

Programmer vs Designer

Siang itu saya beragenda mewawancarai seorang pelamar untuk posisi staf admin keuangan. Malam sebelumnya saya memperhatikan surat aplikasi pekerjaan yang ia kirim, terlihat ada yang unik.

Cewek 25 tahun ini pegang 2 gelar sarjana S1; akutansi dan desain komunikasi visual. Pekerjaan sebelumnya adalah desainer website di sebuah biro jasa website di Surabaya. Dari portofolio yang bisa saya lacak, karya-karyanya cukup bagus. Malah istimewa kalau boleh sedikit memberi apresiasi lebih. Tapi kenapa ia membidik posisi administrasi alih-alih posisi desainer web yang juga ditawarkan?

Ternyata tak perlu waktu lama untuk tahu motifnya. Dia takut ketika bilang bisa bikin (desain) website, orang akan melihat dirinya bisa bikin dari keseluruhan proses produksi website, A-Z. Padahal dia ‘cuma bisa’ mendesainkan saja. Paling sampai urusan slicing, menggal-menggal worksheet desain sesuai dengan struktur elemen kebutuhannya.

Saya bisa langsung memaklumi ketakutannya. Dari banyak pengalaman saya pun sering menemukan kondisi banyak orang yang tak bisa membedakan peran designer web dan web programmer dalam proses produksi website. Apalagi di kota saya, Jogja. Di sini banyak pemilik bisnis yang sudah melek internet dan merasa butuh punya website. Tapi prinsip hemat sering jadi panglima. Kalau bisa dibikin oleh satu orang, ora perlu lah harus setim segala.

Sayangnya yang salah melihat ini bukan cuma orang luar saja, para pelaku jasa pembuatan website pun rancu membedakan antara designer dan programmer. Diperparah oleh munculnya banyak blog engine (wordpress, jomla, tumblr dll) yang kian memudahkan orang membuat website. Satu lagi dampak dari teknologi yang cenderung ‘instant’, bisa bikin orang tak lagi melihat esensi.

Pastinya itu cuma efek samping saja, pasti masih banyak hal baik yang didapat dari berbagai solusi teknologi termasuk blog engine. Tak jarang saya dengar cerita rekan yang sedang memprospek calon klien pembuatan website. Sering harga yang mereka beri ditanggapi dengan, “koq mahal ya. Kan sekarang bikin website itu gratis”.

Tim dalam produksi website
Dalam pembuatan website ada banyak fungsi yang berperan, tergantung kompleksitas website yang akan dibuat. Fungsi ini yang diartikan sebagai pelaku yang terlibat. Setidaknya dalam proses pembuatan website yang terlibat ada 3 fungsi; desainer, programmer dan yang bertanggung jawab urusan isi (content).

Desainer beda dengan programmer. Desainer berada di area estetis, upaya menyentuh perasaan tentang keindahan. Programmer berada di wilayah teknis matematis. Designer bekerja dengan imaginasi, programmer dengan logika.
Dalam sebuah kerja tim, desainer bertugas menangkap preferensi persepsi pengunjung agar bisa dengan mudah tertarik (user experience) dan gampang memahami isi  pesan webite (navigasi). Programmer bertanggungjawab mewujudkan imaginasi desainer dengan fungsi dan bahasa yang dimengerti oleh sistem jejaring internet; HTML, PHP, SQL, Java, Ajax, Delphi, Oracle, Ruby dan lain-lain.

Analoginya seperti membangun gedung, perlu ada arsitek yang berimaginasi tentang gedung yang artistik, fungsional, bikin betah penghuninya atau bahkan bikin kagum orang. Lalu ada insinyur sipil yang berperan mewujudkan imaginasi ini melalui pendekatan ilmiah dan matematis.

Kalau penanggung jawab isi berperan pada materi yang akan dimuat oleh website. Menyiapkan struktur isi website, isi menu tiap menu, narasi, copywriting dan lain-lain. Kadang 3 peran ini sering perlu ada 1 orang koordinator yang mampu menjembatani 3 fungsi tadi. Biasanya ini dipegang oleh seorang manajer proyek, dia mengawal dari perumusan konsep kreatif website yang mampu menjawab kebutuhan pemilik website sampai website siap tersaji.

Kadang website masih perlu keterlibatan pihak lain. Misal dalam ranah visual bisa perlu ada fotografer, ilustrator dan lainnya. Programmer pun bisa perlu bantuan programmer lain; misal programmer data base bila data yang dikelola begitu masif. Atau tester bila situs tersebut perlu menseriusi masalah keamanan website agar ndak gampang diretas orang.

Atas nama ‘semua bisa disederhanakan’
Kerancuan programmer dan desainer pun juga terjadi dalam analogi bikin gedung atau rumah. Ada yang menyederhanakan arsitek juga bisa diserahin tugas hingga tahap pembangunan. Atau ahli sipil pun bisa diminta membuat desain arsitekturnya.

Tak salah memang. Dalam keilmuan mereka pasti ada potongan area yang sama. Arsitek pun pasti belajar mengenai dasar-dasar ketekniksipilan, meski cuma mendasar. Secara etika profesional pun memungkinkan arsitek menangani tahapan pembangunan pada gedung dengan batasan hingga 3 lantai. Lebih itu harus pakai ahli sipil, setidaknya ini perkara keamanan gedung.

Ahli sipil pun pasti juga bisa ‘dipaksa’ membuat desain arsitektur bangunan maupun rumah. Apalagi kalau yang pesan tak terlalu mikirin orisionalitas. Banyak desain yang bisa dicomot. Atau sekedar bangunan ala kadarnya yang tak memusingkan estetika.

Kondisi yang sama, programmer pun pasti bisa bikin website tanpa bantu desainer web. Programmer pasti ndak kesulitan megang aplikasi desain yang sering dipakai buat desain web semacam fireworks, photoshop, in-design atau malah coreldraw. Tapi jangan berharap solusi kreatif atau orisionalitas atas user experience dan navigasi. Toh sekarang juga banyak website yang menyediakan templete atau contoh desain yang bisa dipakai sebagai referensi.

Pun designer bisa bikin website tanpa programmer. Kini ada banyak blog engine yang bisa menyederhanakan tahapan koding dan desain. Fenomena ini begitu banyak kita lihat, programmer dan desainer menjual jasa mereka secara mandiri tanpa keterlibatan yang lain.

Seperti ahli sipil dan arsitek, programmer dan designer web pun punya irisan area. Designer yang baik pasti dia akan mengikuti perkembangan teknologi proggraming web. Ia perlu tahu imaginasi yang bisa diwujudkan dengan HTML5 ataupun CSS3. Ia juga paham konsep tableless ataupun responsive web yang kini sedang marak. Cuma pastinya pemahaman ini tak menuntut dia paham detil hingga pada aspek teknis.

Lalu bagaimana urusan isi web? Ini juga bisa disederhanakan lagi. Boleh lah ada ahli yang bilang bikin website itu content matter, isi adalah panglima. Cuma banyak orang yang tak memusingkan masalah ini. Website kafe, hotel atau studio foto sudah ada pakemnya harus diisi apa, ndak usahlah mikir sesuatu yang baru di situ. Ndak usah mikir karakteristik tiap entitas bisnis dan konsep komunikasi pemasaran yang lebih komunikatif.

Tak ada yang salah dengan kondisi ini, selain sekedar banyak yang sudah tak lagi membedakan fungsi dasar mengapa ada istilah ‘programmer’ dan ‘designer’. Toh kebutuhan pasar memang masih banyak yang membutuhkan kesederhanaan ini. Mereka perlu punya website hanya untuk memastikan lembaga mereka tersedia di internet. Kayak mereka punya kartu nama, selain logonya tak ada elemen yang beda dengan kartu nama-kartu nama lainnya.

Entitas yang merasa perlu websitenya ditangani dengan pendekatan yang benar lazimnya memang sudah sadar bahwa mereka perlu berinvestasi membangun mereknya (branding). Mereka merasa perlu ada pembeda (distinctive) dalam setiap identitas yang ia bikin (corporate identity) untuk bisa terlihat diantara bejibun pesaing. Mereka yang sudah sadar membabangun ikatan emosi merek dengan pelanggan. Mereka sudah berpikir mengenai modifikasi persepsi untuk membangun citra positif yang akan berdampak pada reputasi.

Sekarang, jenis programmer web atau designer web seperti apakah dirimu?

Tags

contoh portfolio,contoh fortofolio,contoh portofolio programmer,contoh fortopolio,contoh portofolio pribadi,contoh porto folio,cara membuat portofolio pribadi,sebutkan cara membuat web desain,contoh porto polio,contoh portfolio diri,struktur program css,contoh protofolio,contoh forto folio,portofolio contoh,fungsi designer,contoh membuat portofolio pribadi,contoh porfolio,contoh portofolio web,contoh portofolio adalah,cara membuat design website
cToko Toko Online

Managing Director future-works.net dan ideproperti.com Menyimak media & manajemen media; kehumasan (PR) dan permerekan (branding)


37 Comments

  1. Posted June 19, 2012 at 3:46 pm | Permalink

    kalau saya cuman anak yang bisa koding html5 & css3 itu pun belum menguasai penuh. apalagi javascript *belum nyentuh* :D

    kalu gitu ada FRONT-END DEVELOPPER dan BACK-END DEVELOPPER. secara indonesianya itu cuman desainer dan programmer kah??

    • Posted June 20, 2012 at 10:20 pm | Permalink

      Makasih komennya, mas bayu.

      Yang saya pahami (secara saya juga bukan designer pun proggramer) frontend dan backend tu perkara lokasi tanggung jawab yang ditangi dalam sebuah sistem. Frontend pastinya ngurusin apa yang tersaji di browser user. Sedang backend lebih ke sistem yang menyuplai data ke frontend.

      Frontend developers pastinya ada area proggraming dan ranah design. Sedang di backend pada umumnya fungsi design ndak banyak ‘berperan’. Toh yang perlu user experient di beckend cuma para internal developers saja, bukan untuk konsumsi publik.

      Yang pernah saya alami, backend lebih ke database, keamanan serta penguasaan hardware kalau servenya dikelola sendiri.

      Atau mas bayu punya pengalaman lain? Pastinya menyenangkan diobral di sini :)

  2. Posted June 20, 2012 at 8:19 am | Permalink

    makannya sekarang sepertinya hampir setiap programmer minimal harus menguasai photoshop walaupun dasarnya saja. karena pada dasarnya itulah prinsip ekonomis yang masih di anut banyak orang

    • Posted June 20, 2012 at 10:27 pm | Permalink

      Hai mas Robi,

      Menurut saya bila memproklamirkan sebagai programmer, ya sudah bangun kepakaran di programming saja. Untuk urusan teknis design biar jadi urusan designer.

      Misal software yang biasa designer pakai, proggramer cukup ‘sekedar tahu’ saja. Ndak usahlah jadi expert. Paling juga cuma urusan slicing :)

  3. Posted June 20, 2012 at 11:17 am | Permalink

    artikel yang menarik ,,, dan sangat setuju. karna saya juga merasakan hal serupa he he he he :)

  4. Posted June 24, 2012 at 5:31 pm | Permalink

    bener gan, semua itu ada ahlinya masing-masing. Kalau dipaksakan untuk menyerahkannya pada satu orang saja, ya pasti orang tersebut akan kacau dan pusing sendiri. Dan akibatnya? proyek yang diberikan akan tidak maksimal hasilnya.

  5. Posted July 10, 2012 at 3:48 pm | Permalink

    sangat menarik, kayanya enak bgt klo qt bekerja sesuai bidangnya, kadang kala koding ga beres2 cuma gara2 mikirin designnya yg blm klop, tulisan ini menginspirasi saya untuk membentuk tim yg lebih solid lg supaya hasil pekerjaan bs maksimal.

  6. Vive Vio
    Posted July 11, 2012 at 5:58 pm | Permalink

    wahhh…
    pengetahuan baru nih,
    tapi untuk anak SMK terutama saat LKS SMK(Lomba Kompetensi Siswa) dlm bidang web design. dituntut untuk bisa membuat design yg memiliki estetika juga dituntut untuk bisa Pemrogaman, dan keamanan dari web yg dibuat.
    singkatnya mereka harus menguasai front-end dan back-endnya. kebetulan saya juga masih SMK dan ikut serta dalam lomba tersebut :D .

    bagiamana pendapat mas mengenai hal itu???

    • tauhid aminulloh
      Posted July 16, 2012 at 12:30 pm | Permalink

      Menurut saya apa yang dipelajari mas vive sudah benar. Pembagian peran disigner dan programmer lebih ke aplikasi di dunia profesional. Profesionalisme menuntut adanya spesialisasi.

      Sedang dalam proses belajar, tahu keseluruhan proses akan sangat bermanfaat, bisa jadi bekal bagus kala nanti jadi profesional. Itu bukan cuma ada di dunia per-web-an doang. Di banyak hal lain juga, seperti sepak bola.

      Di pembelajaran sepak bola dini usia, semua siswa kudu bisa bermain di semua posisi bermain; jadi pemain belakang, tengah, depan ataupun kiper. Saat mereka bertanding pun–misal lagi pertandingan antar SSB–pelatih yang baik tak mengenalkan ‘strategi’ buat anak didiknya. Formasi yang digunakan tetap formasi dasar 4321. Yang dilihat dalam pertandingan tersebut bukanlah kalah menang, tapi setiap pemain dapat bermain dengan benar.

      Semoga seperti itu juga yang dicari dalam lomba yang mas vive ikuti.

      Tapi saya melihat ada yang kurang dalam pembelajaran yang disebut mas vive. Selain design dan programming ada yang penting juga dalam pembuatan website, yakni content.

      Content jadi perkara pertama yang perlu dibahas dalam perencanaan pembuatan website, nantinya website ini bermanfaat apa buat target pengunjungnya.

      Kali segitu jawaban saya, semoga bermanfaat.

  7. Posted July 14, 2012 at 3:12 am | Permalink

    wah sangat bermanfaat artikelnya mas. Membuka cara pandang baru tentang hal programmer dan designer. Memang dari kebanyakan orang2 beranggapan orang/praktisi yang membuat website itu selalu dapat membuat website secara keseluruhan dalam hal ini dari segi design maupun programnya. Padahal kebanyakan para praktisi dibidang website itu juga punya spesifik kemampuannya masing-masing entah itu design atau programnya. Makannya ada teori-teori atau konsep MVC(Model View Controller) untuk memisahkan antara program dan design agar pengembangan aplikasi yang kompleks dapat dipisah antara programm dan design sehingga aplikasi yang diharapkan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan. Terima kasih mas sudah berbagi pengalaman-pengalamannya.

    • tauhid aminulloh
      Posted July 16, 2012 at 12:32 pm | Permalink

      makasih mas, emang banyak yang masih salah melihat fungsi designer dan programmer. Saya juga awalnya berfikir situs belajar web design ini mbahas aspek visual web saja, ternyata lebih banyak sisi programming hehehe

  8. Bayu. Jr
    Posted July 23, 2012 at 9:44 am | Permalink

    Wahh boleh juga nihh…. sering juga dapat proyek yg membuat kita jadi 3 in 1, mulai analisa sistem, programmer n desainer… ya tentunya itu hal yg sulit, tapi kadang karena suatu hal mengakibatkan itu harus dilakukan. walaupun jelas ga bisa maksimal, tapi tetap harus berada pada titik aman… yg jelas Otak Kanan n Otak kiri ga kn pernah bisa disatukan… hehehehe, tapi kalau mau ditimbang masing2 yaa bolehlah… hehe :)

  9. Banerube
    Posted July 24, 2012 at 9:56 am | Permalink

    wah, sangat mencerahkan ni artikel,makasih infonya…

  10. Posted August 1, 2012 at 12:41 pm | Permalink

    Bener, banyak yang kurang paham atau menyepelekan peran masing-masing entitas dalam sebuah tim website. Saya di Mimi Creative tetap keukeh menggarap sebuah website dengan full team, meski sebenarnya masing-masing orang bisa membuat satu website utuh dengan berbagai tool seperti WordPress atau lainnya.

  11. Posted August 9, 2012 at 12:02 pm | Permalink

    kalau saya yang dari awal hingga akhir ditangani sendiri
    tapi terusterang repot juga sih
    kepengen suatu saat punya banyak staff yg bisa diplot sesuai keahlian masing2

    btw nice artikel, trims ya

    • tauhid aminulloh
      Posted August 9, 2012 at 4:32 pm | Permalink

      Ndak usah nunggu punya staf juga bisa, ajak kolaborasi temen-temen yang lain dunk. Saya ndaftar deh mas :)

      • Posted August 9, 2012 at 9:45 pm | Permalink

        wah menarik nih mas …
        klo masnya spesifikasinya apa? barangkali suatu saat kita bisa bekerjasama

        • tauhid aminulloh
          Posted August 9, 2012 at 9:55 pm | Permalink

          Background saya di PR dan sedang dikit-dikit belajar branding. Jadi kalo terlibat di pembuatan website saya sering di perancangan konsep dan project management untuk mastiin desainer, programmer dan content developer bisa kerja sama baik. Mas Adam gimana?

          • Posted August 9, 2012 at 9:58 pm | Permalink

            oo begitu, ini sy sedang cek http://future-works.net/, cuman krn inet saya yg lola jadi belum kebuka2 deh :)

            kalau saya sendiri sementara masih menghandel desain, converting ke html css dan programming juga. cuma untuk kencederungan saya lebih suka mendesain dan converting ..

        • tauhid aminulloh
          Posted August 9, 2012 at 10:05 pm | Permalink

          Saya lebih tersedia di tauhid@future-works.net atau @popobumitantra . Selalu gembira kerja dengan orang-orang baru, pasti nemu banyak ilmu baru pula :)

          • isatrio
            Posted August 9, 2012 at 10:39 pm | Permalink

            Wah ide briliant masnya, saya juga kepengen punya satu perusahaan yang kerjanya virtual gak pake ngantor. ngantornya juga dirumah masing2. Perusahaannya patungan

            Sudah sejak tahun lalu pengen bikin2 web house.

          • Posted August 9, 2012 at 10:40 pm | Permalink

            sudah sy follow mas

  12. Posted August 12, 2012 at 2:41 pm | Permalink

    artikel yg sangat menarik mas..

  13. shintaries
    Posted September 9, 2012 at 10:24 pm | Permalink

    Seru juga ya artikelnya, kalo saya lebih kepada meng-edukasi calon klien karena betul seperti yang mas jelasin diatas kalo kebanyakan mereka tidak mengerti bedanya antara web designer sama programmer. Jadi sudah termasuk agenda saya, untuk menjelaskan apa peran saya (web designer) saya di dalam pembuatan website, yang mereka pikir saya membuat dari nol padahal hanya custom design saja.

    • tauhid aminulloh
      Posted September 16, 2012 at 6:51 pm | Permalink

      Makasih apresiasinya, Mbak Shinta…

      Banyak yang ndak sadar tugas awal kita ke klien sebenarnya adalah mengedukasi mereka. Kita perlu hadir ke mereka sebagai solusi.

      Kalau untuk menjelaskan peran designer dalam pembuatan website, yang sering saya pakai adalah anologi mbangun rumah. Biasanya langsung pada paham koq, kenapa situs mereka kudu dibikin keroyokan hehehe…

      Semoga bisa mengispirasi…

  14. nee
    Posted October 19, 2012 at 10:34 am | Permalink

    baru belajar script yang bikin pusing

  15. Posted November 12, 2012 at 9:31 pm | Permalink

    bener banget tuhh ..
    harusnya orang-orang itu mengerti kalo programer itu beda banget sama desainer …
    nyatanya di Indo kebanyakan Programer males ngeDesain dan kebanyakan Desainer ga bnyak mengerti Coding..
    ahhh payahh mau ga mau harus menguasai semua Scripting Client-Server (HTML, CSS, Javascript, ActionScript, PHP, ASP, JSP)
    Juga menguasai semua Software(Photoshop, Dreamweaver, Flash, Dll)
    Tapi bayarannya ga sebanding euy, blom lagi tuntutan Teknologi baru yg terus bermunculan kaya kacang goreng…hufft sedihh ;(
    so mo PROGRAMER kek mo DESAINER intinya orang-orang indo mah maunya murah tapi Kualitas 10 jempol

    Coba aja kalo orang-orang itu pada ngerti … bisa pikir-pikir 2 kali tuh …

  16. Posted January 4, 2013 at 11:21 am | Permalink

    saya mah ga ngerti apa-apa mas, masuh pemula jadi ga banyak komen, cuma nyimak aja, saya baru belajar mengenai css, kalau dilihat dari ketertarikan saya lebih tertaruk dengan design, dan yang ingin saya tanyakan ke-masnya adalah, untuk belajar design web untuk pemula kira-kira apa yang harus saya pahami dan pelajari terlebih dahulu…?, o ya mas kalau bisa kunjungi juga ya situs saya dan mohon komennya….

    • tauhid aminulloh
      Posted January 8, 2013 at 5:42 am | Permalink

      Seperti halnya belajar disain lain, untuk belajar webdesign bisa diawali dengan mangasah selera estetika visual; setidaknya tentang warna, ruang, layout dan typografi.

      Asah juga kemampuan berimaginasi, karena doing design adalah perkara berimaginasi. Update-lah dengan hal-hal proggraming yang sekarang memungkinkan dilakukan di website. Ini akan memberi rel supa imaginasi kita masih tetap realistis di mata web programmer.

      Setelah itu ngamati bagaimana perilaku orang ketika berinternet (netnografi). Ini adalah hal penting karena kita mendesain buat oang lain, bukan buat kita doang.

      Kalau skill teknis software desain, ada banyak pilihan yang bisa dikuasai. Kali saat ini yang sedang populer adalah fireworks.

      Saya sekilah liat situsnya, namun belum nemu hal yang ditawarkan oleh situs tersebut.

  17. Posted February 19, 2013 at 11:07 am | Permalink

    sangat menarik, persepsi masyrakat kita pun msih sprti itu. sya sering mengala hal yang sama. minat sya di koding doang dan tak menghiraukan desainnya, hal ini juga diktakan teman menjadi kelemahan sya., dan tulisan abang ini bisa mnjadi refensi sya buat menjwab kritikan temna2 saya :D

  18. erza
    Posted March 18, 2013 at 11:53 pm | Permalink

    standar jadi programer itu minimal bisa apakah? Hehe, ane sekarang cuma ngerti sama PHP CodeIgniter aja hehe

  19. Posted April 3, 2013 at 11:46 am | Permalink

    Keren nih, sangat menarik.. Pengetahuanku semakin bertambah saja

  20. Posted April 11, 2013 at 3:37 pm | Permalink

    sangat menarik!
    saya mau tanya,
    saya mahasiswa jurusan teknik informasi yang sekarang sedang menempuh semester 4 id universitas 45 surabaya,
    saya sedang dilanda dilema, disemester 5 nanti ada penjurusan studi, mau ambil desain grafis atau sistem informasi,

    saya sekarang sedang mendalam beberapa bahasa pemograman seperti vibi dan php.
    namun, sebenarnya specifik otak saya, selama saya renungi cenderung imaginatif dari pada logika!

    bisa dikasih sarannya?
    terima kasih

  21. hakim
    Posted April 19, 2013 at 5:50 pm | Permalink

    maaf mas sebelum nya, saya cuma mau nanya.. mungkin gag kalo misal ny ad orang yang bisa memprogram trus mendesign web ??
    mohon jawaban ny :)

  22. faruq
    Posted May 9, 2013 at 1:01 pm | Permalink

    kang artikelnya bagus,saya minta yah,syukron:)

  23. vanthewijck
    Posted March 24, 2014 at 12:31 pm | Permalink

    Hmm.kadang dalam suatu tempat kerja ada aja desainer yg di tuntut bisa php mysql dll. Harusnya dibedakan desainer bermain dengan imajinasi dan klo di paksakann bermain dengan logika ga bakal bener..

One Trackback

  1. [...] klik Posted in Uncategorized SHARE THIS Twitter Facebook Delicious StumbleUpon E-mail [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

webdesign